Mendampingi kelompok, tidak terjebak memimpin kelompok




Sebagai orang luar yang memdampingi kelompok masyarakat, biasanya masyarakat akan menilai seorang fasilitator memiliki pengetahuan yang banyak dan memahami berbagai permasalahan kelompoknya. Fasilitator ketika mendampingi kelompok masyarakat biasanya akan selalu berbagi dari pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya dalam setiap kesempatan pertemuannya dengan masyarakat. Kondisi ini terkadang dapat menguji fasilitator untuk tetap dapat bersikap “memfasilitasi” dalam menjalankan tugasnya mendampingi kelompok masyarakat. Kegiatan memfasilitasi kelompok masyarakat yang rutin dilakukan oleh seorang failitator, biasanya setelah berjalan beberapa bulan dapat menjadikan hubungan antara keduanya begitu erat hingga terbangun hubungan emosional yang cukup kuat diantaranya.

Cobaan bagi seorang fasilitator akan tiba, ketika “target kegiatan” yang diminta lembaganya belum juga terlaporkan (selesai), sementara masyarakat dampingannya sedang memiliki kesibukan lain di desanya. Kondisi seperti ini terkadang menggoda seorang fasilitator untuk mengambil alih kegiatan tersebut, demi pencapaian target tersebut. Peran memfasilitasi kelompok masyarakat yang selama ini dilakukannya dalam mendampingi masyarakat akan dapat berubah seketika menjadi seorang pemimpin kelompok, kondisi tekanan dari lembaga terkadang akan mempengaruhi fasilitator dalam bersikap. Beberapa fasilitator, bahkan terkadang ada yang mengambil alih kegiatan kelompok masyarakat tersebut, hanya karena mengejar sebauah laporan (target).
Kondisi ini sebenarnya tidak perlu terjadi, apabila komunikasi antara lembaga, fasilitator dan kelompok terbangun dengan baik sejak awal kegiatan dilaksanakan. Atau, bisa jadi evaluasi dan monitoring mengenai kinerja fasilitator tersebut, luput dilakukan oleh lembaganya ? ada juga kemungkinan disebabkan masyarakat selaku anggota kelompoknya yang memiliki problematika yang cukup banyak sebelum fasilitator tersebut melaksanakan kegiatan di daerahnya.  Kemungkinan yang lain bisa juga apabila tidak dilakukannya (dengan baik) pemetaan wilayah oleh lembaga-nya sebelum kegiatan tersebut dilaksanakan didaerah tersebut.

Seorang fasilitator tentunya akan melaksanakan program kegiatan yang diberikan oleh lembaganya dalam memfasilitasi masyarakat dengan baik, sesuai target dan jadwal kegiatan yang telah dibuat lembaganya. Fasilitator memang tidaklah mungkin dapat “sendiri” dalam menjalankan program kegiatan pemberdayaan masyarakat, dia akan sangat membutuhkan dukungan lembaga yang men-support-nya bagi kelancaran kegiatan pendampingan masyarakat. Kerjasama yang baik antara fasilitator dengan lembaganya akan sangat mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya program kegiatan pemberdayaan masyarakat di wilayah kerjanya.



Labuhan Ratu, 05 September 2014

Nano Sudarno

www.nanosudarno.blogspot.com